Sejarah Penemuan Molecul Transfer Factor

Sejarah Penemuan Transfer Factor. Pada tahun 1949, Dr.H. Sherwood Lawrence, saat meneliti penyakit TBC (Tuberculosis) menemukan “molekul informasi” yang terkandung dalam sel darah putih manusia (sistem imunnya). Beliau menemukan bahwa molekul itu bisa dipindahkan dari satu orang ke orang yang lain (yang bisa memberikan kepada penerimanya, ‘kekebalan’ dari penyakit TBC). Beliau menamakan molekul itu “Transfer Factor” (TF). Penelitian lebih lanjut menemukan bahwa TF juga terdapat di dalam kolostrum (susu awal) sapi dan kuning telur ayam. Mengapa kolostrum sapi? Karena sapi bisa menghasilkan susu yang banyak pada awal menyusui. Walaupun TF ini terbuat dari kolostrum sapi, tapi ia tidak mengandung susu sapi, ia juga tidak mengandung kasein dan imunoglobulin yang bisa menimbulkan alergi. Jika kita mengkonsumsi 45.000mg kolostrum sebanding dengan mengkonsumsi 600 mg TF.
Selama 50 tahun setelah penemuan itu, banyak para ilmuwan dan dokter yang melakukan penelitian tentang TF itu. Lebih dari 3.500 laporan ilmiah telah diterbitkan dengan pengeluaran lebih dari US$ 40 juta untuk penelitian-penelitian itu. 
Pada tahun 1989, Dr. Gary Wilson dan Dr. Greg Paddock telah berhasil menciptakan teknologi untuk memisahkan TF dari kolostrum susu lembu. Melalui teknik pemisahan ini, TF tulen dapat dikumpulkan, dikeringkan dan dijadikan kapsul untuk kegunaan manusia. Pada tahun 2002, proses pengekstrakan TF dari kolostrum sapi dan kuning telur ayam telah dipatenkan oleh perusahaan 4Life Research dan produk-produknya telah digunakan di 60 negara didunia.
Pada penderita kanker, TF mampu meningkatkan fungsi sel-sel NK yang berperan memerangi sel-sel kanker. Dr. Darryl See, seorang peneliti dari University of California dan pakar kesehatan dunia dari WHO, mengungkapkan hasil penelitiannya terhadap 20 pasien pengindap kanker stadium 3 dan 4, menunjukkan 16 pasien mengalami pemulihan dan dalam kondisi stabil setelah menjalani terapi TF ini.
Pembuktian keampuhan TF juga dilakukan di Rusia lewat serangkaian riset yang terkait dengan penyakit infeksi HIV, hepatitis B, hepatitis C, herpes, kanker lambung, clamidiosis urogenital,osteomyelitis,  opisthorchiasis, psoriasis, dermatitis atopik dan busuk usus besar, dengan hasil riset yang sangat menggembirakan.
Untuk di Indonesia, sudah ada cukup banyak juga dokter yang menggunakan TF ini. Dari penelitian sejauh ini tidak ada efek negatif dari penggunaan terapi TF. Demikian pula kendala dalam perolehan bahan baku kolostrum juga tidak ada, karena produknya diambil dari susu sapi yang melimpah jumlahnya dan semuanya itu diproses di Amerika.
Sehingga produk TF yang dihasilkan sudah dalam bentuk jadi, yaitu berbentuk kapsul, tablet kunyah, atau serbuk/bubuk yang siap dikonsumsi siapa saja mulai dari bayi baru lahir sampai orang tua, sepanjang orang itu tidak punya masalah dengan cangkok organ tubuh. 
Khusus bagi orang yang telah melakukan transplantasi organ tubuh dilarang Untuk mengkonsumsi, alasannya karena organ tubuh yang dicangkokkan itu tidak sama sel-selnya dengan sel-sel tubuhnya. Jika dikonsumsi maka akan dikira musuh dan akan diserang oleh sel-sel NK-nya sendiri.

Related Article

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*